Crafter Depok kembali menyelenggarakan KulWhapp pada hari Kamis tanggal 2 April 2020. Tema yang coba kami angkat kali ini adalah "Menata Hati & Pikiran Menghadapi Masa Sulit". Diharapkan materi yang diberikan ini dapat sedikit membantu kita semua, khususnya member Crafter Depok dalam menghadapi pandemi yang sedang merebak di seluruh dunia ini.
Profil singkat Nara Sumber:
Diana Mardiahayati
Lahir di Jakarta 30 Jan 1969
Lulusan Fak. Psi. UI 1993,
menjadi dosen 5 tahun sebelum mengundurkan diri untuk fokus mengurus keluarga, khususnya putri cilik yang masih berusia 2 tahun.
Thn 2008 mulai kembali aktif sebagai praktisi (Psikolog Pendidikan) di Klinik Terpadu Fak Psikologi UI hingga sekarang, selain membuka praktek di rumah.
Status Ibu dengan 2 orang anak usia 24 & 21 tahun, suami wafat 2015.
1. PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalaamu'alaikum, selamat malam sahabat crafter hebat!
Apa kabar?
Kita semua tahu bahwa saat ini kita tengah berada dalam masa sulit, yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya. Wabah corona yang mulanya hanya ada di provinsi Wuhan, China, setelah beberapa waktu akhirnya masuk ke Indonesia.
Tak sedikit pula dari kita yang terhenyak kaget dengan realita betapa cepatnya virus ini menyebar dan menyasar orang-orang di lingkungan kita, dan serta-merta menimbulkan ketakutan plus kepanikan.
Perasaan takut yang bervariasi kadarnya, dari yang ringan hingga berat, membuat pikiran tak tenang, sulit tidur, langsung auto kuatir ketika anak atau suami batuk/pilek, baperan, atau mudah berdebar-debar. Belum lagi menyimak tayangan orang-orang yang 'panic-buying', masker dan hand-sanitizer tiba-tiba sulit dicari...
Sebenarnya takut adalah sebuah perasaan yang wajar, terlebih dalam situasi seperti sekarang ini, dan mungkin kita menyaksikan sendiri dampak wabah ini sangat mengglobal. Pabrik-pabrik mobil di Eropa ditutup, banyak orang kehilangan pekerjaan, gaji disunat, suami tiba2 WFH (work from home, kerja dari rumah). Sebaliknya, jika bekerja sebagai dokter atau nakes, harus berjibaku di RS. Juga, anak2 yang tiba2 harus bersekolah di rumah dalam waktu tak jelas, yang sedikit-banyak mengganggu privasi dan konsentrasi kita untuk berkarya. Namun apakah kita sampai perlu takut berlebihan?
2. LANGKAH APA SAJA YANG DAPAT KITA LAKUKAN?
Semua perubahan di atas tentu saja membutuhkan proses penyesuaian diri; sebagian orang mampu melakukannya dengan cepat dan sigap, sebagian lainnya masih terus berjuang melakukannya...
Satu hal penting yang perlu dilakukan adalah berhenti sejenak dan 'self-talk'; bicaralah pada diri sendiri,
"Hei kamu... stop!!!Tarik nafas..."
Kita tidak bisa melakukan sesuatu tanpa keterlibatan pikiran dan emosi. Tenangkanlah diri, rilekslah, maka segala sesuatu akan terlihat lebih jelas.
Selanjutnya, langkah umum yang dapat kita lakukan adalah TABAH!
Mungkin ada yang menyeletuk "itu mah kita juga udah tau Bu Dii..., tapee deh" 😅
Hehe sebentar.
TABAH itu singkatan dari Terima - Akui - Bangkit - Amalkan - Harapan.
Detailnya sebagai berikut.
T A B A H
TERIMA realita bahwa wabah ini memang ada, eksis di Indonesia, di sekitar kita.
AKUI perasaan-perasaan kita, apapun itu. Entah perasaan denial (menolak), marah, menyesal, cemas, stres, dan lain-lain.
BANGKIT - tanya pada diri sendiri, bagaimana selanjutnya? Perlahan cobalah menyesuaikan diri dengan situasi baru ini, kembali fokus mengurus diri, antara lain lebih menjaga kebersihan, menata emosi dan pikiran untuk mempertahankan imunitas.
AMALKAN dan adopsi hal-hal baik dalam rangka 'self-healing' (mengobati diri sendiri) serta mengisi waktu secara positif membersamai doa2. Mencoba bersibuk diri dengan aneka urusan. Banyak sekali ide-ide brilian bertaburan di medsos yang justru muncul di masa sulit ini. Ajakan untuk berdonasi APD, membantu warga tak mampu, berdoa bersama mendoakan kesembuhan warga, kota dan negara ini, 'life-streaming' misa di gereja-gereja, kajian online, dan lain-lain.
HARAPAN - ketimbang sibuk melihat ke belakang atau masa lalu, lebih baik kita fokus ke depan, membangun pikiran positif bahwa ini akan berakhir baik.
Menjadi tantangan tersendiri bagi kita yang menyandang status sebagai ibu/tante/nenek untuk memberi pemahaman yang benar kepada anak-anak/ponakan/cucu berusia balita ttg wabah ini. Mereka seolah polos tidak tahu, namun dapat menyerap informasi yang keliru. Gunakan bahasa sederhana yang netral dan mudah dipahami anak-anak, tentang pentingnya mencuci tangan, memakai masker, alasan larangan bermain keluar sementara waktu, dan sebagainya.
Di sisi lain, sebagai bagian masyarakat, termasuk anggota berbagai WAG, penting pula berpikir panjang dan tak bersikap reaktif sebelum memutuskan membagi informasi atau berita.
Cek-ricek seberapa valid info itu, pentingkah, bermanfaat atau justru unfaedah bagi kesejahteraan emosi diri sendiri maupun orang lain.
Bagaimanapun, diperlukan kedewasaan berpikir dari diri masing-masing untuk melakukan hal di atas.
3. MENGGALI MAKNA DI BALIK MASA SULIT
Mungkin ada yg bertanya atau bersikap skeptis dengan, "Ah, mana mungkin ada sisi positif dari sebuah musibah? Nonsense, Bu Di..."
Percayakah, ternyata tetap ada lho. Apalagi kita sebagai umat yang beriman dan meyakini bahwa Tuhan itu tak akan mungkin mendatangkan bala atau musibah tanpa maksud dan tentu sudah menakar kemampuan hamba-hamba-Nya...
Di balik merebaknya wabah ini yang terkesan 'memaksa' kita banyak berdiam di rumah, ada beberapa hal positif yang kita peroleh, misalnya:
- Lebih hemat ongkos dan waktu yang terbuang di jalan dan berkurangnya wara-wiri maupun nongki-nongki alias nongkrong ga jelas 😅
- Bebas stres di jalan alias kemacetan, stres di sekolah dan kantor.
- Membangun kembali 'bonding' (hubungan, ikatan) dalam keluarga. Biasanya anggota keluarga sibuk masing-masing (mamak kejar setoran PR segunung, suami harus meeting dan sering pulang malam, anak-anak sibuk les ini-itu), jadi tak sempat ngobrol santai. Kita juga mungkin baru tahu keunggulan-keunggulan baru anak kita.
- Belajar berpanjang sabar menghadapi anak dan suami, juga mungkin orangtua, teman, dan kerabat.
- Lebih rendah hati, 'aware' (sadar dengan kondisi sekitar) dan empati dengan orang-orang di sekitar kita; menawarkan atau memberi bantuan sesuai kemampuan.
Penelitian membuktikan bahwa tindakan memberi pada orang lain membuat kita lebih bahagia daripada menghabiskan uang untuk diri kita sendiri.
Bersedekah mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan kepuasan, hubungan sosial dan kepercayaan.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa sebagai manusia dengan sifatnya yang luhur, setiap diri kita memiliki:
*) kebebasan berkehendak (disertai tanggungjawab),
*) hasrat untuk hidup yang bermakna dan penuh manfaat, serta
*) menemukan keberartian diri di tengah-tengah masyarakat/komunitas.
Pilihan tentang bagaimana kita menghadapi dan menyikapi situasi sulit sepenuhnya ada di tangan kita! Karena KITALAH PEMIMPIN UNTUK DIRI KITA!
Paradigma atau bahasa kerennya 'mind-set' positif itu menular lho, senasib dengan paradigma negatif.
Layaknya sebuah hukum tarik-menarik; ketika diri kita senantiasa diisi emosi dan pikiran-pikiran negatif, maka hal-hal yang kita rasa dan pikirkan itulah yang akan menghampiri. Termasuk dampak negatif munculnya keluhan-keluhan fisik (pusing, mual, asam lambung naik, kaki sulit digerakkan, gatal, alergi, dan lain-lain), maupun wujud riil dari harapan-harapan buruk kita. Itulah mengapa kita perlu menjaga harmonisasi kesehatan jasmani, pikiran, & perasaan karena hal tersebut saling berhubungan.
Maka seperti yang dituturkan oleh Erbe Sentanu, betapa dahsyatnya kekuatan sebuah emosi positif (the power of positive feeling) mengiringi pikiran positif kita. Ketimbang terlampau memikirkan dan mendominasi ruang emosi kita dengan hal-hal buruk, mengapa tidak mengalihkan emosi dan isi pikiran dengan doa-doa dan harapan positif? Dan daripada energi kita dihabiskan untuk memikirkan masalah, lebih baik fokuslah pada solusi.
Seperti yang dinyatakan oleh salah satu yang dinyatakan positif terkena covid-19, yaitu Walikota Bogor (Kang Bima Arya): kurangi kepo dan fokus untuk sehat. Senada pula dengan anjuran Departemen Medik Kesehatan jiwa RSCM-FKUI untuk mengurangi menonton/membaca/mendengar berita yang membuat cemas dan gelisah.
4. TIPS TETAP SEHAT DAN BAHAGIA
Mengadopsi ide brilian dari kolega (Teh Iip Fahira, M.Psi, Psikolog):
1. Be self-aware - sadari apa yang kita pikirkan dan rasakan, analisa.
2. Be mindfulness - duduklah dengan nyaman, rasakan dan ikuti detak jantung, nikmati dan resapi.
3. Be creative - kerasa ga sama kita yg mempunyai hobi crafting? 😁
Ini waktunya kita melakukan hobi lama yang nyaris terlupakan.
4. Be meaningfull - renungkan hal-hal positif yang patut disyukuri ada dalam hidup kita dan tulislah.
5. Be active - bergeraklah, dengar musik, menari, berolahraga, atau totok punggung.
6. Be spontaneous - bebas lakukan apapun saat sendirian.
7. Be humorous - pikirkan dan lakukan serta sharing hal-hal lucu, seperti yang kerap dibagi oleh mbak Eka dan bu Asrining atau mpok Nani 😁
8. Be reconnected - dengan orang-orang yang lama tidak kita sapa.
9. Be connected - dengan anggota keluarga di rumah, rebounding.
10. Be religious - mulai kembali membuka kitab suci dan membacanya dengan lebih santai, meresapi maknanya bagi kehidupan kita. Resapi pula kehadiran Tuhan di dekat kita sehingga doa-doa kita pun jauh lebih khusyu'.
Adanya masa sulit ini juga sekaligus menjadi titik perenungan kita sebagai hamba yang tiada berdaya apa-apa tanpa pendampingan dariNya.
SPREAD POSITIVE ENERGIES!
"When you show deep empathy toward others, their defensive energy goes down, and positive energy replaces it. That's when you can get more creative in solving problems" - Stephen Covey
Bersyukurlah untuk hari ini serta hal-hal kecil yang kita miliki, agar kita mampu bersyukur untuk hal-hal besar yang akan datang...
Nangis boleh, nyerah jangan!
Semangaattt, jangan kalah sebelum bertarung! In syaa Allah kita bisa!
#remindertoall
"Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan..."
~ Ibnu Sina ~
Mohon maaf lahir batin 🙏
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh
REFERENSI:
1. H.D. Bastaman ( 2020): Materi Pelatihan Logoterapi: Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna
2. Elisabeth Lukas (1986): The Meaning of Suffering- Comfort in Crisis through Logotherapy
3. Dr. Rena Latifa, M.Psi, Psikolog: Covid-19 series
4. Iip Fariha, S.Psi, M.Psi, Psikolog: 10 Tips Tetap Sehat dan Bahagia pada saat Self Isolation
5. Erbe Sentanu (2007): Quantum Ikhlas
6. Diana Mardiahayati: Kumpulan Catatan Pribadi
Tabik!
Pertanyaan 1:
Tiara-Antika
Berapa lama waktu normalnya beradaptasi dengan 'new normal'?
Saya masih jetlag dengan perubahan mendadak ini...padahal sudah masuk minggu ke-3.
Jawab:
Take your time, salah satu utk mempercepat adalah berkolaborasi dgn pasangan atau orang terdekat sekaligus menyamakan langkah dan menyatukan semangat.
Bikin prioritas dan target baru, dan bersikaplh lbh fleksibel.
Pertanyaan 2:
No name
Bagaimana cara mengakui keadaan? Td kan disebut jg denial termasuk mengakui keadaan. How come?
Jawab:
benar bersikap denial adalah salah satu proses mengakui perasaan yg ada, makna sederhananya adalah diri kita menolak realita yg ada/eksis ini, bisa dg berteriak atau menggugat keadaan/orang lain/Tuhan yang menimpakan situasi sulit ini terhadap kita.
Pengakuan adanya perasaan denial menjadi penting utk memetakan langkah kita selanjutnya, jd tdk terhenti pd pengakuan itu saja.
Demikian...
Pertanyaan 3:
Echi - Nichicraft
Jika kita sudah berusaha berpikiran & bersikap positif, tapi lingkungan terdekat masih saja bersikap negatif, apa yang harus dilakukan?
Jawab:
Pilihannya ada di tangan kita, akan terbawa aroma dan aura negatif tsb atau tdk. Penting sekali dlm situasi sekarang utk bersikap tegas pada diri sendiri, baik dgn self-talk ataupun cara lain... agar cara pandang, sikap, perasaan kita tak ikut teracuni.
Pertanyaan 4:
Wening - Unikacraft
Bagaimana cara menyampaikan ke teman yg sering share berita negatif yg dapat menambah kekhawatiran, karena dia merasa share info bermanfaat?
Jawab:
Hm memang itulah uniknya manusia ya, tiap orang punya alasan & opini tersendiri dlm menilai sesuatu, & itu dipengaruhi banyak hal...
Coba sampaikan dgn cara santun bhw berita yg dibaginya membuat kita merasa kurang nyaman, namun jk ia tetap bersikeras, lebih baik kita 'jaga jarak' menjauh, ketimbang kita jadi spanneng.
Pertanyaan 5:
Ery - Obaji
Selftalk. Ini lebih baik verbal kayak ngobrol sama diri sendiri atau nulis2 di diari kayak jaman sekolah dulu?
Jawab:
mangga saja bebas merdeka tp ga usah pk bambu runcing yah (canda...).
Intinya sebenarnya mengingatkan & memotivasi diri sendiri agar kembali fokus. Krn kan kdg2 kita ngelantur niat mau ngerjain apa jadinya ngerjain hal lain, atau tiba2 ngedown krn 1 & lain hal... Nah gunanya self-talk itu untuk mengembalikan kita kpd tujuan atau target semula.
Pertanyaan 6:
No name
Saat kondisi seperti ini, mau usaha jg kyknya bingung krn sepertinya tidak ada jual beli.
Bagaimana sikap kita menghadapi kebutuhan yg diperlukan tp tdk ada pemasukan
Jawab:
Memang jd tantangan tersendiri ya berjualan pd situasi sekarang, khususnya crafter non makanan
Pilihannya bisa stop sementara atw beralih ke bisnis lain, misalnya makanan yg disupport dg delivery (frozen food atau semacamnya) bisnis ini bisa sekaligus membantu berdayakan ojek online/pangkalan yg jg sepi orderan.
Stop sementara bisa juga bermakna lain, kita perlu memangkas pengeluaran2 tak perlu spt jajan anak2, menyederhanakan menu, dll
Pertanyaan 7
Lilis-Sayyida
Ditengah berita & situasi yg tdk menentu, ditambah dng keterbatasan interaksi, menjadikan suasana rumah berbeda.
Pdhl kita dituntut utk selalu menyiapkan kondisi rumah senyaman seperti biasanya.
Hal ini kadang membuat mood anjlog & susah konsentrasi.
Bgmn menghadirkan mood booster agar ttp fokus mengurus keluarga & berkarya ?
Jawab:
Situasi yg berubah tentu sedikit-byk memang membuat kita beradaptasi kembali. Biasanya br ketemu suami/anak/anggota keluarga lainnya di sore atw bahkan malam hari, ujug2 harus nguprek setiap saat dari jam ke jam.
Menurutku kita perlu menurunkan target pribadi dlm berkarya, spy prioritas utama mengurus kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, termasuk masak 3x sehari so dapur kudu ngepuuull terus yah...
Nah itulah perlu mindfullness spy mengerjkannya sepenuh hati tanpa merasa terpaksa & kehilangan mood booster.
Tetap semangaattt
Pertanyaan 8:
Yuke -ukkeiko
Anak saya sering sakit kepala bila mendapat tekanan dari bos di tmpt kerjanya, ada mslh dlm pekerjaan, hingga skrg meski WFH suka sakit kepala karena hal itu
Bgmn cara mengatasinya?
Jawab:
Sudah brp lama sakit kepalanya?
Mgk perlu ditelusuri bgmn bentuk tekanan yg membuat anak Ibu sakit kepala, apakah tenggat waktu yg sempit, atau instruksi mendadak, dll. Akan jauh lbh menekan apabila karakter atau kepribadian anak Ibu bertentangan dg etos kerja sang boss maupun perusahaan secara umum.
Yg bisa Ibu lakukan adalah mengajak anak berbicara dr hati ke hati dlm suasana yg nyaman, utk tdk fokus pd rasa sakitnya namun alihkan pada "how to..." bagaimana mengatur pekerjaan2nya dgn misalkan membaginya dlm beberapa bagian, menyusunnya dr yg paling mudah diselesaikan, segera dikerjakan dan tdk menunda2nya, dsb. Semoga jawaban ini bs membantu yaa Bu...
Courtesy of Litbang Crafter Depok
Pembicara : Diana Mardiahayati
Moderator : Weningratri
Reposted by : Obaji




No comments:
Post a Comment