Dalam mengadakan dan mengajar workshop, entah kita yang membuat sendiri, melalui EO, ataupun permintan dari sebuah komunitas/instansi, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dan kita persiapkan. Berikut ini adalah beberapa hal tersebut:
1. MATERI
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan materi. Antara lain:
Usia Peserta
Pastikan dengan jelas berapa usia peserta kita. Apakah kisaran dewasa, remaja, atau anak-anak. Karena materi dan penyampaian materi akan berbeda. Misal materi untuk anak usia 7th pasti berbeda dengan anak usia 12th.
Kemampuan Peserta
Pastikan materi yang akan kita sampaikan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta. Misal untuk menjahit tas model tertentu, peserta minimal sudah biasa menggunakan mesin jahit. Hal ini bisa dicantumkan dalam flyer/promosi. Atau dikomunikasikan saat pendaftaran.
Durasi WS
Seringkali, karena terbiasa mengerjakan suatu craft, kita merasa itu mudah dan tidak butuh waktu lama mengerjakannya. Hal ini yang sering membuat kita salah dalam memperkirakan durasi ws.
Pengalaman saya, cara memperkirakan durasi ws adalah 3-4 kali durasi kita mengerjakan craft tersebut.
Misalnya kalung yang biasa saya buat sekitar 30 menit, berarti jika kita mengajar, butuh sekitar 90 menit. Jangan lupa untuk menambahkan waktu untuk beberes sebelum dan sesudah ws.
Jumlah Peserta
Pastikan berapa banyak murid yang dapat kita handle sendiri. Jika peserta sudah ditentukan (misal dari sebuah komunitas meminta kita mengajar 30 orang) pastikan berapa asisten yang kita butuhkan.
Ada beberapa materi yang mudah untuk disampaikan dan dipahami, jadi kita bisa mengajar banyak murid sekaligus. Ada juga materi sulit, sehingga kita hanya bisa mengajar beberapa murid dalam satu kelas.
Jika kita memaksakan untuk mengajar murid terlalu banyak, maka materi yg kita sampaikan tidak akan maksimal, baik dari segi penyampaian ataupun penerimaan. Pertanyaan2 dari murid tidak bisa terjawab semua. Kesalahan2 yg mereka lakukan tidak semua terlihat dan terkoreksi oleh kita.
2. KIT
Selain materi kita juga harus mempersiapkan kit dengan baik. Alat dan bahan apa saja yang akan dipakai. Mana yang akan kita berikan ke peserta, dan mana yang hanya dipinjamkan. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi harga ws nantinya.
Ada celah bisnis menarik yang saya temukan dari kit ini. Selain memberikan kit untuk dikerjakan saat ws, kita juga bisa menjual kit untuk mereka latihan lagi di rumah. Saya biasa menyakan hal ini pada penyelenggara ws, "Apakah saya boleh menjual kit dan produk saya yg sudah jadi?" 
3. MODUL
Modul atau handout ini optional sih. Tapi saya sering mendapat cerita semacam ini, "Aku dulu pernah belajar itu, eh sekarang mau bikin lagi lupa" atau pertanyaan seperti, "Mba, tadi finishingnya gimana ya? Aku lupa"
Jadi saya berusaha menyediakan modul atau minimal kertas & alat tulis supaya peserta bisa mencatat, untuk panduan saat mengulang/latihan lagi di rumah. Karena ada beberapa orang ketika di kelas kurang konsentrasi, begitu di rumah baru bisa konsen.
Modul bisa berisi list alat, bahan, serta step2 dalam pembuatan craft. Lebih baik lagi jika dilengkapi foto yg jelas. Memang butuh banyak waktu untuk mengumpulkan foto dan menyusunnya menjadi sebuah modul. Tapi kalau sudah jadi, bisa kita pakai berungkali lho. Bahkan bisa dijual tanpa memberikan ws (otak dagang jalan lagi
)
Alternatif lain bisa juga membuat video tutorial. Silahkan disesuaikan saja dengan kebutuhan dan kemampuan 
4. CONTOH PRODUK WS
Contoh produk yg akan di-ws-kan ini penting. Selain untuk foto di flyer/promosi, juga untuk mengajar nantinya. Peserta pasti ingin melihat, meraba, dan menerawang supaya ada gambaran apa yg akan mereka pelajari dan seperti apa contoh yg benarnya.
Contoh produk ini bisa mengurangi pertanyaan dari peserta. Misal "ini udah bener belum mba?" Mereka bisa menjawab sendiri dengan melihat mirip atau tidak dengan contoh.
Jika peserta banyak, sebaiknya siapkan beberapa contoh. Jangan lupa buat produk dengan warna yg cantik untuk promosi.
Sedikit tips bisnis lagi nih 🤭
Kita bisa bawa contoh produk kita yg lain. Fungsinya untuk promosi ws berikutnya, sekaligus melihat respon peserta, apakah banyak yg berminat untuk ikut atau tidak. Atau bahkan kita bisa bawa beberapa produk sekaligus, untuk melihat produk mana yg membuat mereka tertarik untuk belajar.
5. HARGA WS
Nah, masalah harga ini nih yang biasanya paling bikin mumet. Sebaiknya kita list dulu semua biaya yg dibutuhkan untuk ws ini. Misalnya:
- Bahan untuk kit
- modul
- sewa tempat
- minum/makan/snack (optional)
- transport tutor
Baru kita tentukan biaya mengajar. Jangan lupa hitung juga biaya asisten atau fee untuk EO (jika ada)
Sesuaikan harga ws dengan pasar dan dengan kualitas kita. Jangan ragu untuk memberi harga tinggi jika memang pasarnya memungkinkan dan harga itu sesuai juga dengan kualitas ws kita.
6. FLYER
Cantumkan foto dengan detail yg tampak jelas dan semenarik mungkin untuk flyer. Beri juga keterangan yg jelas mengenai kapan dan dimana workshop akan berlangsung.
Perhatikan paduan warna dan font (jenis huruf) supaya pembaca tidak kesulitan memahami isi dari flyer. Jangan gunakan huruf yg terlalu kecil atau terlalu meliuk-liuk. Jangan terlalu bertele-tele sehingga memenuhi flyer dengan tulisan.
Jangan lupa untuk menjelaskan juga craft apa yg akan kita ajarkan (bisa dijabarkan di caption). Karena masih banyak yg awam tentang craft. Misal "Workshop Crochet" banyak yg bingung, apa itu crochet? Apakah sama dengan rajut? Kita yang menekuni sering kali lupa kalau tidak semua orang paham apa itu crochet atau istilah craft lainnya
7. PROMOSI
Apalah artinya produk bagus atau workshop yang keren tanpa promosi. Jangan lupa share di sosmed flyer workshopmu. Jangan lupa pakai hastag yang sesuai, yang kira2 akan digunakan calon pasar kita (misal; #workshoprajut #kursusrajut)
Bisa juga posting di berbagai group FB dan group WA (sesuai aturan group tersebut tentunya).
Rajin-rajin posting tentang karya kita atau kegiatan craft kita yg lain. Ini untuk branding diri. Pasti ada aja calon murid yg kepo "yang ngajar siapa sih, seperti apa sih karya2nya, karakternya seperti apa sih" dan semacamnya. Yuk mulai sekarang kurangi atau bahkan hentikan posting status negatif. Karena branding diri ini penting banget untuk promosi
️
Sebenernya ada banyak cara promosi via sosmed. Insya Allah nanti akan diadakan oleh tim divisi litbang ya..
8. TEPAT WAKTU
Kita semua pasti paham dan merasakan, tepat waktu dalam hal apapun itu menunjukan komitmen dan profesionalitas kita.
Usahakan tepat waktu dalam mengajar. Apalagi jika materi yg kita ajarkan butuh banyak persiapan. Kalaupun ada hal yg membuat kita terpaksa terlambat, jangan lupa informasikan sesegera mungkin kepada murid ataupun penyelenggara. Membuat murid/penyelenggara ws menunggu kabar, bisa menambah nilai buruk kita.
9. MENGAJAR
Setelah semuanya sudah oke, yang harus dipersiapkan selanjutnya adalah bagaimana kita mengajar.
Banyak yang bilang mengajar itu butuh keahlian sendiri, karena bisa memahami/mengerjakan/membuat belum tentu bisa mengajarkan. Tapi saya yakin keahlian ini sama seperti keahlian lainnya yg bisa dipelajari. Caranya bagaimana? Ya amati dan jangan takut untuk mencoba.
Saya sendiri mengawali dengan mengamati tutorial di youtube. Dari sekian banyak video tutorial untuk jenis craft yg sama, ada yg menarik ada yang tidak, ada yg mudah dipahami dan ada yang tidak. Lalu saya nekat mengajar privat hingga akhirnya membuka workshop.
Saya mencoba explore dengan mengajar berbagai materi, dan mencoba berbagai teknik mengajar untuk materi yang sama, bahkan mencoba berbagai modul. Dari respon para murid, saya jadi tau mana yang lebih mudah dipahami dan mana yang lebih menarik.
Masalah "menarik" ini juga penting.
Misal untuk gelang kelas anak2 saya tambahkan manik-manik aneka warna agar mereka lebih semangat. Saat mengajar craft yang sebenarnya rumit & membosankan, saya pecah menjadi beberapa sesi yang tiap sesinya membuat produk kecil dengan berbagai aksesoris supaya menarik.
Metode "memecah" ini saya temukan ketika ada murid yang komplain karena seharian hanya belajar tusuk dasar rajut, pulangnya tidak ada produk cantik ysmg dibawa dan bisa dipamerkan ke keluarga di rumah, gak bisa buat selfi juga
. Sejak itu di workshop berikutnya, saya ajarkan tusuk rantai menjadi gelang manik, tusuk single menjadi bros pita, dan seterusnya.
Intinya, banyak yang tidak paham bahwa ada jenis craft yang dalam mempelajari & membuatnya butuh waktu. Untuk pasar yg seperti inilah kita dituntut untuk membuat materi jadi ringkas dan menarik. Silahkan berkreasi dengan berbagai material seperti renda, manik, batu alam, dan sebagainya, agar ws jadi lebih menarik. Jangan lupa sesuaikan juga dengan harga ws.
Penutup
Sedikit pengingat, untuk self reminder ke saya sendiri juga. Mengajar craft itu sama seperti menjual produk. Buat yg terbaik dari hati agar pembeli juga bisa merasakan feelnya.
Saat kita mengajar dengan baik, murid pasti akan selalu mengingat dengan baik, dan tidak ragu untuk terus berhubungan dengan kita.
Entah itu hanya bertanya, memberi respon positif atas postingan kita di sosmed, membeli kit lagi, meminta kita mengajar materi lain lagi, atau bahkan mempromosikan kita pada kerabatnya.
Sharing sedikit pengalaman yang pernah saya rasakan. Ada murid yang malah jadi kapok belajar, dan ada juga yang masih berkomunikasi hingga sekarang, bahkan jadi teman baik 
Pertanyaan dari Member dan Jawabannya
1. Mba Ietoh (rumaRaya)
Bagaimana jika peserta belum bisa menyelesaikan ws nya sementara waktu sudah habis.
apa tetap lanjut dengan konsekuensi bayar overtime atau mengaja peserta melanjutkan di rumah sambil lanjut wa kalau ada kendala, atau malah (peluang bisnis) menawarkan privat?
- Tergantung belum selesainya seperti apa. Kalau belum selesai tapi dia sudah paham tekniknya, bisa saja lanjut konsultasi via wa. Dalam hal ini peran modul juga penting. Murid tinggal lihat modul dan bertanya bagian yg sulit saja.
Kalau dalam kelas tersebut banyak yg belum selesai dan masih belum paham, berarti cara mengajar kita yg harus kembali dikoreksi. Apakah penjelasannya sudah cukup baik. Atau projectnya terlalu sulit. Atau memang seharusnya menjadi 2 pertemuan.
Kalau yg belum selesai dan belum paham hanya 1-2 orang, biasanya aku tawarkan untuk privat. Tapi aku minta dia coba dulu latihan di rumah, barangkali di rumah lebih konsen.
Aku pernah juga mengalami banyak murid yg masih kurang paham, tapi masih semangat belajar. Kalau memang hanya butuh 1-2 jam lagi, aku pribadi gak masalah bayar overtime sewa tempat.
Kalau dalam kelas tersebut banyak yg belum selesai dan masih belum paham, berarti cara mengajar kita yg harus kembali dikoreksi. Apakah penjelasannya sudah cukup baik. Atau projectnya terlalu sulit. Atau memang seharusnya menjadi 2 pertemuan.
Kalau yg belum selesai dan belum paham hanya 1-2 orang, biasanya aku tawarkan untuk privat. Tapi aku minta dia coba dulu latihan di rumah, barangkali di rumah lebih konsen.
Aku pernah juga mengalami banyak murid yg masih kurang paham, tapi masih semangat belajar. Kalau memang hanya butuh 1-2 jam lagi, aku pribadi gak masalah bayar overtime sewa tempat.
2. Retno Nawangsih (Qreina)
1. Apakah sebaiknya harga ws di samakan dng harga jual atau lebih mahal?
2. Dan apakah dari hasil ws apakah peserta diperbolehkan untuk memperbanyak dan menjualnya kembali?
- 1. Ini tergantung kebijakan masing-masing sih mba. Dulu waktu awal mengajar dan masih bingung menentukan harga, aku menyamakan dengan harga produk (makasih saran2 ngajarnya ya Mba Rie 😘)
Bisa juga lebih mahal dari harga produk. Toh nanti dari ilmu yg didapat, bisa bikin banyak produk. Bisa juga buka ws lagi. 😁
Aku pribadi sekarang pakai patokan penjumlahan biaya2 yg aku jabarkan tadi.
2. Nah ini nih yg sepertinya masih jadi perdebatan di dunia persilatan ya 😆
Masalah boleh atau tidak menjual kembali aku kembalikan ke masing2 pengajar ya. Setiap orang pasti punya kepentingan dan pertimbangan sendiri.
Aku sendiri gak masalah kalau memang hasil ws mau dijual atau bahkan si murid buka ws lagi. Malah aku bangga ilmuku bisa bermanfaat.
Menurutku dengan dia membayar dan mengikuti workshop, dia berhak melakukan apa saja terhadap ilmu yg sudah diterima. Kecuali ilmu gratisan ya. Beda lagi etikanya 😁
Kalau memang tidak ingin ilmu atau produk disebar luaskan, sebaiknya dibuat akad diawal.
3. Irawati (Tsabitaboneka)
Idealnya WS 1 pengajar max mengajar berapa orang supaya semua murid dapet perhatian?
Atau tergantung jenis WS nya?
- Menurutku sih tergantung jenis ws-nya bu. Tergantung tipe muridnya juga.
CD kan sudah beberapa kali mengadakan ws ketika kopdar. Karena murid2nya sudah ada basic craft, jadi lebih mudah mengajarnya. Padahal gurunya cuma beberapa dan muridnya seguambreng 😆
Aku sendiri bisa ketemu idealku berapa murid dalam satu kelas itu setelah coba2.
Untuk ws rutin aku maksimal 6 murid. Untuk request dari komunitas/instansi yg biasanya muridnya banyak. Aku pilih materi yg mudah dijelaskan dan dipahami, jadi bisa handle banyak murid. Jangan ragu gunakan bantuan asisten jika muridnya terlalu banyak.
Alhamdulillah berkat komunitas CD ini aku jadi dapat banyak kesempatan menjadi asisten beberapa teman di sini. Aku sendiri pernah dapat bantuan asisten dari beberapa teman di sini.
4. Nurul Hidayah (Ruby's Collection)
Kalo muridnya ada yang dateng telat, sedangkan kita terbatas sama durasi tempat, cara menyiasati gimana supaya ilmunya bisa terserap sesuai target pengajar
- Aku biasa pake sistem kebut sih. Jadi sambil jelasin sambil bikinin sebagian, biar buat contoh dia juga. Jelasinnya juga nunggu murid lain bisa ditinggal.
Biasanya yg telat juga gak enak dan berusaha mengejar ketinggalan sih
Infoin aja nomer kita, biar kalau dia memang serius mau belajar, bisa ambil kelas lagi entah privat atau ikut workshop.
Courtesy of: Tim Litbang Crafter Depok
Pembicara: Weningratri
Moderator: Yenny Komala
Reposted by: Obaji
Pembicara: Weningratri
Moderator: Yenny Komala
Reposted by: Obaji

No comments:
Post a Comment